Siti Muflihatunnisa

Prinsip-Prinsip Pembelajaran

      Kemarin pas belajar di School of Research sabtu tanggal 22 September 2012 pukul 14.30 wib diruang TG 2, ini adalah kegiatan sampingan setelah Kuliah dan Organisasi (PPIPM), Pak guru yang sekarang berbeda pada episode sebelum puasa, beliau adalah kakanda di PPIPM sekaligus Dosen Jurusan Teknik Mesin di Universitas Negeri Padang, nahh.. pada tengah pembelajaran beliau  bertanya : Siapa yang tahu prinsip belajar itu apa-apa aja? ada yang jawab : prinsip pembelajaran itu ada Learning to know, learning to do, learning to be and learning to live together,
    secara sadar masih bingung "kok aku sampe g tahu yang begituan ya??"  yea walaupun basic ku non Kependidikan, tapi gak boleh kalah tahu sama anak Pendidikan. yea udah sepulang dari School of Research langsung Searching apa sih prinsip-prinsip pembelajaran itu. akhirnya dapet dehh...sekedar berbagi sekaligus mengingatkanku tentang hal itu. nihh hasil searching bersama om Google...

     Wenurut A. Kosasih Djahari (2001), dalam proses pembelajaran prinsip utamanya adalah proses keterlibatan seluruh/sebagian besar potensi diri siswa (fisik dan non fisik) dan kebermaknaannya bagi diri dan kehidupannya saat ini dan di masa yang akan datang (life skill). Dalam pembelajaran berbasis portofolio ada 7 prinsip, yaitu : cooperative group learning, student based, demokratis-humanistik dan tranparan, factual based (materi belajar dikaitkan dengan kehidupan), multi dimensional, yakni multi domain, multi gatra, multi media/sumber dan multi penilaian, fungsi guru sebagai fasilitas dan tempat kelas, sekolah dan luar sekolah (M. Nur Rokhman, dkk, 2003).

Sementara itu Dasim Budimasyah (2002), secara garis besar menyatakan, bahwa prinsip pembelajaran portofolio pada intinya adalah :
1. Empat Pilar Pendidikan
Empat pilar pendidikan sebagai landasan model pembelajaran berbasis portofolio adalah learning to do, learning to know, learning to be and learning to live together, yang dicanangkan UNESCO. Hal ini mengandung arti bahwa dalam
pembelajaran kita tidak boleh memperlakukan peserta didik bak kosong yang selalu dijejali berbagai informasi melalui ceramah.

2. Pandangan Konstruktivisme
Konstruktivisme mengajarkan tentang sifat dasar manusia belajar. Menurut konstruktivisme belajar adalah constructing understanding atau knowledge, dengan cara mencocokkan fenomena, ide atau aktivitas yang baru dengan pengetahuan yang telah ada dan percaya bahwa sudah dipelajari. Dalam hal ini kata kuncinya adalah construct. Konsekuensinya siswa dalam proses pembelajaran seharusnya bersungguh-sungguh membangun ini atau makna dalam sudut pandang pembelajaran bermakna bukan sekedar hafalan atau tiruan.

3. Democratic Teaching
Melalui kegiatan pembelajaran berbasis Portofolio peserta didik dilatih dan dibiasakan untuk hidup berdemokrasi. Proses demokrasi dimulai dari perumusan permasalahan kelas sampai pada penyajian portofolio. Hal ini nampak pada aktivitas dan kreativitas siswa yang begitu bebas untuk mengekspresikan berbagai pengalaman belajarnya. Hal ini sudah barang tentu merupakan upaya positif dalam mewujudkan kehidupan demokrasi, termasuk di negara Indonesia.

4. Prinsip Belajar Siswa Aktif
Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Berbasis Portofolio nampak sekali. Hal ini dapat dilihat dari tahap-tahap atau langkah-langkah kegiatan, dimana hampir semua langkah kegiatan melibatkan seluruh aktivitas siswa.

5. Kelompok Belajar Kooperatif
Proses pembelajaran dengan pendekatan berbasis Portofolio secara jelas dan menerapkan sistem belajar kooperatif, yaitu proses pembelajaran yang berbasis kerjasama. Kerjasama antar siswa dan antar komponen-komponen lain di sekolah, termasuk kerjasama sekolah dengan orang tua siswa dan lembaga terkait.

6. Pembelajaran Partisipatorik
Proses pembelajaran dengan pendekatan berbasis Portofolio juga menganut prinsip dasar pembelajaran partisipatorik, sebab melalui model ini siswa belajar sambil menjalankan (Learning by doing). Salah satu bentuk perjalanan hidup berdemokrasi. Sebab dalam tiap langkah dalam model ini memiliki makna yang ada hubungannya dengan praktek hidup berdemokrasi.

Sebagai contoh pada saat memilih masalah untuk kajian kelas memiliki makna bahwa siswa dapat menghargai berlangsungnya perdebatan, siswa belajar mengemukakan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain, menyampaikan kritik dan sebaliknya belajar menerima kritik, dengan tetap berkepala dingin.

7. Reactive Teaching
Proses pembelajaran dengan pendekatan berbasis Portofolio, guru perlu menciptakan strategi yang tepat agar siswa mempunyai motivasi belajar yang tinggi. Motivasi yang seperti itu akan dapat tercipta kalau guru dapat meyakinkan siswa akan kegunaan materi pelajaran bagi kehidupan nyata. Demikian juga guru harus dapat menciptakan situasi sehingga materi pelajaran selalu menarik, tidak membosankan. Guru harus punya sensitivitas yang tinggi untuk segera mengetahui kegiatan pembelajaran sudah membosankan siswa. Jika hal ini terjadi, guru harus segera mencari cara untuk menanggulanginya. Inilah tipe guru yang reaktif itu. Ciri guru reaktif itu diantaranya adalah sebagai berikut : menjadikan siswa sebagai pusat kegiatan belajar, pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui dan dipahami siswa, selalu berupaya membangkitkan motivasi belajar siswa dengan membuat materi pelajaran sebagai sesuatu hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan siswa dan segera mengenali materi atau metode pembelajaran yang membuat siswa bosan. Bila hal ini ditemui, ia segera menanggulanginya.

Model pembelajaran berbasis portofolio mensyaratkan guru yang reaktif, sebab tidak jarang pada awal pelaksanaan model ini, siswa ragu dan bahkan malu untuk mengemukakan pendapat
.

0 komentar:

Poskan Komentar